Iman dan Imun
By lieswa - 10.03
Sebuah keyakinan kuat, letaknya di hati.
Yakin akan ketetapannya yang sudah, sedang, dan akan terjadi.
Ketetapan yang mungkin tidak, atau bahkan lebih dari kata sesuai.
Yakin bahwa apapun yang kamu usahakan tidak ada kata nihil baginya, semua sudah berada dalam timbangan.
Saat kita yakin, akankah masih ada pertanyaan, why me? bukankah jawabannya akan selalu sama, why not?
Karena kamu diuji sesuai dengan kapasitasmu.
Agar kamu dapat berlajar dan bebenah untuk lebih baik.
Bukankah itu adalah tanda cintaNya?
Tanda peduliNya.
Seorang yang beriman akan melekat padanya sifat malu.
Rasa malu yang akan membentenginya dari melakukan hal bodoh, rendahan, atau tidak sopan.
Dengan malu, ia akan berusaha menjaga kehormatannya.
Bahkan ada sebuah hadits yang menyebutkan, "jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu".
Apakah kamu tengah merasa bisa berbuat sesukamu?
Sesuka hati melontarkan pendapat tanpa pandang tempat.
Sesuka hati menuruti nafsu diri.
Susuka hati mengumbar sesuatu tanpa pandang bulu.
Dan sesuka hati menumbuhkan harapan bahkan kepada ia yang belum halal.
Dimana rasa malumu?
Telah hilangkah imanmu?
Terlebih kau muslimah.
Bukankah mahkotamu adalah rasa malu.
Lalu dimana kau akan mencarinya saat sudah jatuh?
Hati itu peka lo.
Ia bisa mendeteksi sedikit saja keganjalan.
Ibarat tubuh manusia, saat ada benda asing masuk, si leukosit akan selalu sigap.
Karena itu sebagai bentuk pertahanannya, sistem imunnya, benteng dirinya agar tak terkena penyakit.
Bersyukurlah jika hatimu masih peka, itu tandanya teguran masih datang menghampirimu.
Agar kau bertaubat, dan tidak melakukan kekeliruan yang hatimupun menolaknya.
Jaga ia ya, karena ia yang akan melindungimu.
Karena iu adalah tanda peduliNya padamu.
Karena kau berharga :)


0 komentar